PENTINGNYA LITERASI MATEMATIKA YANG DIPADU DENGAN TEORI MULTIPLE INTELLIGENCE UNTUK ANAK SEKOLAH DASAR
Sumber daya manusia
yang bermutu merupakan faktor penting dalam pembangunan di era globalisasi saat
ini. Pengalaman di banyak negara menunjukkan, sumber daya manusia yang bermutu
lebih penting dari pada sumber daya alam yang melimpah. Disadari, daya saing
bangsa Indonesia di tengah bangsa lain cenderung kurang menggembirakan. Salah
satunya, tercermin dalam perbandingan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Sumber
daya manusia yang bermutu hanya dapat diwujudkan dengan pendidikan yang
bermutu, termasuk di dalamnya adalah penguasaan matematika dan pemahamannya
secara holistik. Program for International Student
Assessment (PISA) melaksanakan asesmen untuk mengetahui literasi siswa dalam
membaca, matematika, dan sains. Literasi matematika merupakan kemampuan
seseorang individu merumuskan, menggunakan, dan menafsirkan matematika dalam
berbagai konteks. Kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika
beserta aplikasinya dalam kehidupan sehari-hari dijadikan sabagai gambaran baik
atau tidaknya kualitas pendidikan. Oleh karena itu, masyarakat dengan segala
keunikan kecerdasan individunya harus memiliki kemampuan literasi matematika
dan koneksi matematika yang memadai. Seseorang yang literate (melek) matematika
tidak sekedar paham tentang matematika akan tetapi juga mampu mengunakannya
dalam pemecahan masalah sehari-hari. Masyarakat dituntut mampu memanfaatkan
matematika secara teoritis dan aplikatif. Teori multiple intelligence dapat
digunakan sebagai salah satu sarana untuk meningkatkan literasi dalam mata
pelajaran matematika.Semua pelaku pendidikan matematika harus terus melakukan
ijtihad demi peningkatan kemampuan literasi matematika.
PENDAHULUAN
Undang-undang
RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 37 secara
tersurat menegaskan bahwa pelajaran matematika merupakan salah satu mata
pelajaran wajib bagi siswa sekolah pada jenjang pendidikan dasar dan menengah.
Di tingkat nasional, evaluasi pembelajaran matematika di sekolah dilakukan
menggunakan standar Ujian Nasional (UN). Sebagai upaya untuk
memperbaiki rendahnya kemampuan memahami bacaan, Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan telah mencanangkan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS
adalah upaya menyeluruh yang melibatkan semua warga sekolah (guru, peserta
didik, orang tua/wali murid) dan masyarakat, sebagai bagian dari ekosistem
(Muhammad: 2016). GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana
dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun
2015. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah kegiatan 15 menit
membaca buku non pelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Pernyataan menurut Kusumah (2010) adalah
bahwa literasi merupakan kemampuan menyusun
serangkaian proses berpikir meliputi serangkaian pertanyaan,
merusumuskan, memecahkan, dan menafsirkan permasaahan yang didasarkan pada
konteks yang ada. Agar menjadi orang yang memiliki literasi matematis, siswa perlu
memiliki seluruh kemampuan yang dimiliki, sehinga merasa yakin saat melakukan
perhitungan dan menggunakan ide matematis (kuantitatif). Menurut Niss (Kusumah
:2010), literasi matematis mencakup 8 kemampuan dasar, meliputi : penalaran dan
berfikir matematis, argumentasi matematis, komunikasi matematis, pemodelan,
pengajuan dan pemecahan masalah, representasi, simbol, dan media.
Dalam rangka
meningkatkan kemampuan literasi matematika ini, guru, pemerintah maupun
pemerhati pendidikan dan pemegang kebijakan pendidikan perlu memahami terlebih
dahulu subyek pembelajar matematika. Perlu diketahui bahwa subjek pembelajar
matematika di Indonesia memiliki karakteristik yang sangat beragam. Terkait
dengan karakteristik pembelajar ini, Gadner telah menegaskan bahwa setiap
individu memiliki delapan kecerdasan yang dirangkum dalam multiple
intelligences. Yakni kecerdasan linguistik, kecerdasan matematik, kecerdasan
spasial, kecerdasan musikal, kecerdasan kinestetik, kecerdasan interpersonal,
kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan naturalis. Jasmine berpendapat bahwa
multiple intelligences merupakan validasi tertinggi gagasan bahwa perbedaan
individu adalah penting. Pemakaiannya dalam pendidikan sangat bergantung pada
pengenalan, pengakuan, dan penghargaan terhadap setiap atau berbagai cara siswa
belajar, di samping pengenalan, pengakuan, dan penghargaan terhadap setiap
minat dan bakat masing-masing siswa. Fathani juga menegaskan bahwasannya
multiple intelligences hadir dalam diri setiap individu, tetapi masingmasing
individu akan memiliki satu atau lebih multiple intelligences yang memiliki
tingkat multiple intelligences teratas. Namun, dalam praktik pembelajaran di
sekolah sudah selayaknya seorang guru memiliki data tentang tingkat
kecenderungan multiple intelligences setiap siswa.
Seorang guru perlu
menghargai sekaligus memfasilitasi keunikan dan perbedaan masing-masing
individu pembelajar. Jikalau perbedaan individu kurang diperhatikan, maka
banyak tentu akan banyak siswa yang mengalami kesulitan belajar dan kegagalan
belajar. Kenyataan ini menuntut agar siswa dapat dilayani sesuai perkembangan
individual masing-masing. Konsekuensinya adalah pembelajaran perlu melayani
siswa secara individual untuk menghasilkan perkembangan yang sempurna pada
setiap siswa. Demikian juga untuk meningkatkan kemampuan literasi matematika
siswa. Perlu menjadikan paradigma multiple intelligences ini sebagai landasan
filosofis untuk pengembangan literasi matematika. Dengan kata lain, literasi
matematika perlu didesain dengan memperhatikan keunikan setiap individu
pembelajar.
LITERASI
MATEMATIKA
Literasi matematika
merupakan kemampuan seseorang untuk merumuskan, mengunakan dan menafsirkan
matematika dalam berbagai konteks masalah kehidupan sehari-hari secara efisien.
Matematika yang dimaksudkan mencakup seluruh konsep, prosedur, fakta dan alat
matematika baik dari sisi perhitungan, angka maupun keruangan. Dari segi
proses, kemampuan ini tidak hanya terbatas pada kemampuan menghitung saja akan
tetapi juga bagaimana mengkomunikasikan, menalar dan proses berfikir matematis
lainnya. Dalam kehidupan sehari-hari, siswa berhadapan dengan
masalah yang berkaitan dengan personal, bermasyarakat, pekerjaan, dan ilmiah.
Banyak diantara masalah tersebut yang berkaitan dengan penerapan matematika.
Penguasaan matematika yang baik dapat membantu siswa menyelesaikan masalah
tersebut. Dengan demikian pengetahuan dan pemahaman tentang konsep matematika
sangatlah penting, tetapi lebih penting lagi adalah kemampuan untuk
mengaktifkan literasi matematika itu untuk memecahkan permasalahan yang
dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Literasi merupakan hak
asasi manusia dan dasar untuk belajar sepanjang hayat, yang mencakup berbagai
aspek kehidupan. Salah satu aspek tersebut adalah kebutuhan akan literasi
matematika. Dalam PISA 2015, literasi matematika didefinisikan sebagai berikut:
“Mathematical
literacy is an individual’s capacity to formulate, employ, and interpret
mathematics in a variety of contexts. It includes reasoning mathematically and
using mathematical concepts, procedures, facts and tools to describe, explain
and predict phenomena. It assists individuals to recognise the role that
mathematics plays in the world and to make the well -founded judgments and decisions needed by constructive, engaged and
reflective citizens.”
Literasi
matematika merupakan kapasitas individu untuk memformulasikan, mengunakan, dan
menafsirkan matematika dalam berbagai konteks. Hal ini meliputi penalaran
matematik dan pengunaan konsep, prosedur, fakta dan alat matematika untuk
mendeskripsikan, menjelaskan, dan mempresiksi fenomena. Hal ini menuntun
individu untuk mengnali peranan matematika dalam kehidupan dan membuat
penilaian yang baik dan pengambilan keputusan yang dibutuhkan oleh penduduk
yang konstruktif, dan reflektif.
Sebelum dikenalkan
melalui PISA, istilah literasi matematika telah dicetuskan oleh NCTM (National
Council of Teachers Mathematics). Terdapat lima kompetensi dalam pembelajaran
matematika, yaitu: pemecahan masalah matematis (mathematical problem solving), komunikasi matematis (mathematical communication), penalaran
matematis (mathematical reasoning),
koneksi matematis (mathematical
connection), dan representasi matematis (mathematical representation). Kemampuan yang mencakup kelima
kompetensi tesebut adalah kemampuan literasi matematika. Sementara, Isnaini
mendefinisikan literasi matematika sebagai kemampuan peserta didik untuk dapat
mengerti fakta, konsep, prinsip, operasi, dan pemecahan masalah matematika. Selain
itu, Menurut Kusumah literasi matematika adalah kemampuan menyusun serangkaian
pertanyaan (problem posing),
merumuskan, memecahkan dan menafsirkan permasalahan yang didasarkan pada
konteks yang ada.
Kemampuan literasi matematika dianggap sebagai salah satu komponen penting yang dibutuhkan peserta didik untuk dapat berhasil memecahkan soal-soal PISA. Kemampuan ini juga berfokus kepada kemampuan peserta didik dalam menganalisa, memberikan alasan, dan menyampaikan ide secara efektif, merumuskan, memecahkan, dan menginterpretasi masalah-masalah matematika dalam berbagai bentuk dan situasi. Literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan audio. Berikut ini adalah tahapan Gerakan Literasi Sekolah (Anderson & Krathwol, 2001):
a. Tahap ke-1: Pembiasaan kegiatan membaca yang menyenangkan di ekosistem sekolah. Pembiasaan ini bertujuan untuk menumbuhkan minat terhadap bacaan dan terhadap kegiatanmembaca dalam diri warga sekolah. Penumbuhan minat baca merupakan hal fundamental bagi pengembangan kemampuan literasi peserta didik.
b. Tahap ke-2: Pengembangan minat baca untuk
meningkatkan kemampuan literasi. Kegiatan literasi pada tahap ini bertujuan
mengembangkan kemampuan memahami bacaan dan mengaitkannya dengan pengalaman
pribadi, berpikir kritis, dan mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif
melalui kegiatan menanggapi bacaan pengayaan.
c. Tahap ke-3: Pelaksanaan pembelajaran
berbasis literasi. Kegiatan literasi pada tahap pembelajaran bertujuan
mengembangkan kemampuan memahami teks dan mengaitkannya dengan pengalaman
pribadi, berpikir kritis, dan mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif
melalui kegiatan menanggapi teks buku bacaan pengayaan dan buku pelajaran.
Pada dasarnya setiap
satuan pendidikan memiliki sistem untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas.
Sistem pendidikan sekolah di Indonesia memiliki 4 (empat) tahapan pokok, yaitu:
masukan (input), proses (process), luaran (output); dan hasil ikutan
(outcomes). Fakta di lapangan, di Indonesia untuk masukan (input) masih
bervariasi. Ada sekolah yang mendapat masukan (input) yang bagus-bagus,
sebagaimana yang dialami oleh sekolah-sekolah favorit yang nota bene
berdomisili di pusat kota atau strategis. Sementara, ada sekolah yang menerima
masukan (input) siswa “apa adanya” tanpa melakukan proses seleksi. Fenomena
seperti ini adalah kondisi riil di lapangan. Terkait hal ini, ketika kita
berkomitmen untuk mengembangkan kemampuan literasi matematika siswa, maka harus
berpijak pada variasi kecerdasan masing-masing individu. Dalam praktiknya di
kehidupan nyata, hampir semua aktivitas yang dilakukan individu memerlukan
kombinasi dari beberapa kecerdasan. Misalnya, untuk dapat menjadi seorang
wartawan yang baik, seseorang perlu memiliki kecerdasan linguistik,
logis-matematis, dan intrapersonal yang tinggi. Untuk menjadi seorang Arsitek,
seseorang perlu memiliki kecerdasan visual-spasial, logis-matematis,
kinestetik, dan interpersonal yang tinggi. Bahkan untuk dapat menjadi seorang
guru yang berhasil, tentu harus dapat mengombinasikan semua jenis kecerdasan
dalam multiple intellegences selama proses pembelajaran berlangsung. Hal ini
akan dapat memudahkan siswa dalam menerima informasi yang disampaikan oleh
guru.
MENINGKATKAN
LITERASI MATEMATIKA DENGAN TEORI MULTIPLE INTELLIGENCE
Teori Multiple
intelligences bertujuan untuk mentransformasikan sekolah agar kelak sekolah
dapat mengakomodasi setiap siswa dengan berbagai macam kecerdasan yang dimiliki
siswa. Ada 8 (delapan) macam kecerdasan yang digagas oleh Gardner, yaitu:
a) Kecerdasan Linguistik Kemampuan untuk
menggunakan bahasa untuk mendeskripsikan kejadian, membangun kepercayaan dan
kedekatan, mengembangkan argumen logika dan retorika, atau mengungkapkan
ekspresi dan metafora. Beberapa jenis pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan
linguistik adalah wartawan dan reporter, tenaga penjual, penyair, copywriter,
penulis, dan pengacara.
b) Kecerdasan Matematik
Kemampuan menggunakan angka-angka untuk menghitung dan mendeskripsikan sesuatu,
menggunakan konsep matematik, menganalisa berbagai permasalahan secara logis,
menerapkan matematika pada kehidupan sehari-hari, peka terhadap pola tertentu,
serta menelaah berbagai permasalahan
secara ilmiah. Beberapa jenis pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan logika
matematika adalah akuntan, ahli statistik, insinyur, penemu, pedagang, dan
pembuat program komputer.
c) Kecerdasan Musikal Kemampuan untuk mengerti
dan mengembangkan teknik musikal, merespon terhadap musik, menggunakan musik
sebagai sarana untuk berkomunikasi, menginterpretasikan bentuk dan ide musikal,
dan menciptakan pertunjukan dan komposisi yang ekspresif. Beberapa jenis
pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan musikal adalah guru musik, pembuat
instrumen atau alat musik, pemain band, kritikus musik, kolektor musik,
pencipta lagu atau penyanyi.
d) Kecerdasan
Spasial Kemampuan untuk mengenali pola
ruang secara akurat, menginterpretasikan ide grafis dan spasial serta
menerjemahkan pola ruang secara tepat. Beberapa jenis pekerjaan yang
membutuhkan kecerdasan spasial adalah fotografer, dekorator ruang, perancang
busana, arsitek, pembuat film.
e) Kecerdasan
Kinestetik Kemampuan untuk menggunakan
seluruh atau sebagian dari tubuh untuk melakukan sesuatu, membangun kedekatan
untuk mengkonsolidasikan dan meyakinkan serta mendukung orang lain, dan
menggunakannya untuk menciptakan bentuk ekspresi baru. Beberapa jenis pekerjaan
yang membutuhkan kecerdasan ini adalah mekanik, pelatih, pengrajin, atlet,
aktor, penari atau koreografer.
f) Kecerdasan
Interpersonal Kemampuan untuk
mengorganisasikan orang lain dan mengomunikasikan secara jelas apa yang perlu
dilakukan, berempati kepada orang lain, membedakan dan menginterpretasikan
berbagai jenis komunikasi dengan orang lain, dan memahami intensi, hasrat, dan
motivasi orang lain. Beberapa jenis pekerjaan yang menggunakan kecerdasan
interpersonal adalah manajer, politisi, pekerja sosial, pemimpin, psikolog,
guru atau konsultan.
g) Kecerdasan Intrapersonal Kemampuan untuk
menilai kekuatan kelemahan, bakat, ketertarikan diri sendiri serta
menggunakannya untuk menentukan tujuan, menyusun dan mengembangkan konsep dan
teori berdasarkan pemeriksaan ke dalam diri sendiri, memahami perasaan,
intuisi, temperamen, dan menggunakannya untuk mengekspresikan pandangan
pribadi. Beberapa jenis pekerjaan yang menggunakan kecerdasan ini adalah
perencana, pemuka agama, atau ahli filosofi.
h) Kecerdasan Naturalis
Kemampuan untuk mengenali dan mengelompokkan dan menggambarkan berbagai macam
keistimewaan yang ada di lingkungannya. Beberapa pekerjaan yang membutuhkan
kecerdasan naturalis ini adalah ahli biologi atau ahli konservasi lingkungan.
Teori multiple intelligences telah meyakinkan
kepada setiap pendidik bahwa setiap anak didik adalah anak yang cerdas, menurut
jenis kecerdasan yang dimiliki sebagai bawaan lahir atau pun yang berkembang
sebagai hasil pendidikan dalam budaya. Teori ini penting untuk diterapkan dalam
upaya proses peningkatan literasi matematika siswa di sekolah. Teori multiple
inteligences, sesungguhnya menegaskan bahwa ada beragam cara untuk meningkatkan
literasi matematika siswa. Paling tidak, jika kecerdasan yang terangkum dalam
multiple intelligences, maka akan ada delapan varian cara untuk meningkatkan
literasi matematika siswa.
PENUTUP
Literasi matematika
merupakan kemampuan seseorang untuk merumuskan, mengunakan dan menafsirkan
matematika dalam berbagai konteks masalah kehidupan sehari-hari secara efisien.
Matematika yang dimaksudkan mencakup seluruh konsep, prosedur, fakta dan alat
matematika baik dari sisi perhitungan, angka maupun keruangan. Dari segi
proses, kemampuan ini tidak hanya terbatas pada kemampuan menghitung saja akan
tetapi juga bagaimana mengkomunikasikan, menalar dan proses berfikir matematis
lainnya. Proses-proses tersebut terangkum dalam proses matematisasi.
Kemampuan litersai matematika mendorong seseorang
untuk peka dan paham pengunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Kepekaan
terhadap kegunaan matematika ini akan membantu seseorang untuk berfikir numeris
dan spasial dalam rangka menginterpretasikan dan menganalisis secara kritis
situasi seharihari dengan lebih yakin. Dengan menerapkan
pengembangan literasi matematika yang didasarkan atas tingkat multiple
intelligences pembelajar, maka akan ada minimal delapan beragam variasi
pengembangan, yaitu:
(a) Pengembangan literasi matematika dengan
kecerdasan Linguistik.
(b) Pengembangan literasi matematika dengan
kecerdasan Matematis.
(c) Pengembangan literasi matematika dengan kecerdasan VisualSpasial.
(d) Pengembangan literasi matematika dengan
kecerdasan Musikal.
(e) Pengembangan literasi matematika dengan
kecerdasan Kinestetis.
(f) Pengembangan literasi matematika dengan
kecerdasan Interpersonal.
(g) Pengembangan literasi matematika dengan
kecerdasan Intrapersonal.

Komentar
Posting Komentar